HIV adalah agen etilogi dari AIDS virion yang dikelilingi oleh suatu
lipid yang diperoleh dari membrane sel.
HIV telah di identifikasi
sebagai penyebab acquired immune defiency syndrome (AIDS). Lamanya periode inkubasi sebelum menjadi imunodefisiensi atau
penderita yang kompliksai penyakit yang berbeda dari individu yang satu dengan
yang lain.
Mereka yang beresiko terserang infeksi HIV termasuk
individu-individu yang melakukan
kontak seksual tanpa pengaman dengan pasangan yang berganti-ganti, homoseksual,dan pria biseksual,penderita hemofili,dan penerima tranfusi darah,individu yang menggunakan jarum secara
bergantian dalam menggunakan obat terlarang.
Orang yang mempunyai kontak seksual dengan seseorang yang termasuk
dalam salah satu kelompok tersebut di atas bayi yang terkena infeksi virus melalui plasenta selama
kehamilan dari ibu yang menggunakan obat-obat terlarang intravena
atau ibu heteroseksual dengan
penggunaan obat terlarang intravena.
Test antibody HIV bertujuan untuk mendeteksi dan mengukur
keberadaan /kadar imunoglobulin(IgG tipe 1-4,IgA,IgM,IgD)
ØIgM muncul pertama kali dengan masa hidup pendek (6 bulan)
ØIgG muncul kemudian dengan masa hidup lama sampai beberapa tahun
ØIgA merupakan immunoglobulin yang dominan berada di kelenjar ludah,
bronkus,dan bagian tubuh yang menghasilkan mucus dan positif pada pemaparan pertama.
2.Prinsip
Test ini
meliputi deteksi antibody HIV-1 dan
HIV-2 oleh protein immunodominant
pada virus HIV yang sudah dilumpuhkan dalam membran.Antigen pengikatnya adalah protein rekombinan dari HIV-1
pada region gp-120 dan gp-41 juga termasuk rekombinan
gp-36. Keberadaan HIV ½ IgM
dan IgG dapat dinyatakan dengan konjugat proteinA.Adanya antibody positif
dapat dibaca dengan terbentuknya garis
ungu – keunguan pada membran (region
T). Garis kontrol tambahan pada membran
( region C ) untuk memeriksa reaktivitas
kit.
3.Peralatan
vRapid test HIV
vSpoit 3 cc
vKaret pembendung
vKapas alcohol
vCentrifuge
vTabung reaksi
vPipet tetes
vRak tabung
vStopwatch atau timer
4.Bahan pemeriksaan
Dalam pemeriksaan ini
bahan yang diperlukan adalah :
ØSerum atau plasma
5.Cara Kerja
a)Sediakan alat dan bahan yang digunakan
b)Sampel berupa serum yang telah di sentrifus,diletakan di rak
tabung,dan siapkan tabung dan pipet tetesnya.
c)Buka bungkusan rapid test HIV pada suhu kamar atau ruangan
d)Lalu teteskan serum (±50 µl)
kedalam lubang sampel kemudian dilanjutkan dengan meneteskan 3 tetes buffer(±90
µl)
e)Bacalah hasil antara 10-15 menit setelah meneteskan sampel
f)Tidak boleh lebih dari 15 menit karena bisa menimbulkan positif
palsu
Dari hasil pemeriksaan HIV serum
positif pasien mengidap HIV karena pada strip
rapid test tersebut terdapat 2 tanda garis merah
Tanggal pemeriksaan
Jenis pemeriksan
Hasil
Tgl Exp
No.Lot
pemeriksa
Jumat,10-12-2010
HIV
Reaktif
2011-11
HIV9120041
MUS
PEMBIMBING PRATIKUM
(ANSAR,SKM) (MUSDALIFAH)
PEMERIKSAAN
Virus DBD
(Virus Demam
Berdarah Dengue)
1.Dasar Teori
Demam berdarah adalah salah satu virus yang dipencarkan oleh nyamuk
aedes aegypti dan aedes albopictus.Gejala infeksi demam berdarah yaitu di
tandai oleh serangan mendadak demam berdarah,sakit kepala yang hebat,kejang
urat,artralgia dan bercak pada kulit.
Pemeriksaan virus dengue
dapat dilakukan dengan cara :
vUji serologi untuk mendeteksi keberadan antibody (IgG,IgM terhadap dengue),
Pemeriksaan serologi IgG dan IgM
lebih mudah dan sering dilakukan. Keberadaan immunoglobulin G dan M
menunjukan keberadaan antibody dan keberadaan antibody menunjukan adanya antigen yaitu virus dengue
2.Prinsip
Didalam komponen IgG
lapisan antibody IgG diuji pada
daerah garis pada sebuah test(1). Selama pengujian,spesiemen bereaksi dengan
partikel lapisan antigen demam berdarah pada test strip.campuran kemudian naik
ke atas diselaput Khromatografi oleh gerak kapiler dan bereaksi dengan antibody
IgG pada daerah garis test(1). Jika specimen berisi antibody IgG pada demam
berdarah maka garis berwarna akan tampak pda daerah garis test(1).
Didalam komponen IgM,anti-ligan adalah lapisangaris test pada
daerah test(2). Selama pengujian ,specimen bereaksi dengan ligan antibody IgM.Jika specimen berisi antibody IgG demam
berdarah,satu garis warna akan tampak pada daerah garis test(1). Jika specimen
berisi antibody IgM demam berdarah,satu garis warna akan tampak pada daerah
garis test(2).
vJika specimen tidak berisiantibody
demam berdarah,tidak ada garis yang tampak keduanya daerah garis
test,menandakan satu hasil negative
vUntuk terfokus sebuah prosedur control sebuah garis warna akan selalu
berubah dari merah ke biru pada
daerah garis control,menunjukan bahwa volume dari spesimpen telah ditambahkan
dan terjadi sumbu membran
3.Peralatan
vRapid test DBD
vSpoit 3 cc
vKaret pembendung
vKapas alcohol
vCentrifuge
vTabung reaksi
vPipet tetes
vRak tabung
vStopwatch atau timer
4.Bahan Pemeriksaan
Dalam pemeriksaan ini
bahan yang diperlukan adalah :
ØSerum atau plasma
5.Cara Kerja
a)Sediakan alat dan bahan yang digunakan
b)Sampel berupa serum yang telah di sentrifus,diletakan di rak
tabung,dan siapkan tabung dan pipet tetesnya.
c)Buka bungkusan rapid test DBD pada suhu kamar atau ruangan
d)Lalu teteskan serum (±50 µl)
kedalam lubang sampel kemudian dilanjutkan dengan meneteskan 3 tetes buffer(±90
µl)
e)Bacalah hasil antara 10-15 menit setelah meneteskan sampel
f)Tidak boleh lebih dari 15 menit karena bisa menimbulkan positif
palsu
A. Pengertian Antigen
Istilah antigen mengandung dua arti, pertama untuk mengambarkan molekul yang
memacu respon imun (juga disebut imunogen) dan kedua untuk menunjukkan molekul
yang dapat bereaksi dengan antibodi atau sel T yang sudah disensitasi
(Baratawidjaja, 2006). Antigen yaitu setiap substansi asing yang dapat
menginduksi timbulnya respon imun (Bloom, 2002).
B. Letak Antigen
Antigen ditemukan di permukaan seluruh sel, tetapi dalam keadaan normal, sistem
kekebalan seseorang tidak bereaksi terhadap sel-nya sendiri. Sehingga dapat
dikatakan antigen merupakan sebuah zat yang menstimulasi tanggapan imun,
terutama dalam produksi antibodi. Antigen biasanya protein atau polisakarida,
tetapi dapat juga berupa molekul Iainnya. Permukaan bakteri mengandung banyak
protein dan polisakarida yang bersifat antigen, sehingga antigen bisa merupakan
bakteri, virus, protein, karbohidrat, sel-sel kanker, dan racun.
C. Bagian Antigen
Secara fungsional antigen terbagi menjadi 2, yaitu:
1. Imunogen, yaitu molekul besar (disebut molekul pembawa). Bagian dari molekul
antigen besar yang dikenali oleh sebuah antibodi (oleh
reseptor sel-T) atau bagian antigen yang dapat membuat kontak fisik dengan
reseptor antibodi, menginduksi pembentukan antibodi yang dapat diikat dengan
spesifik oleh bagian dari antibodi atau oleh reseptor antibodi, bisa juga
disebut determinan antigen atau epitop.
2. Hapten, yaitu kompleks yang terdiri atas molekul kecil. Bahan kimia ukuran
kecil seperti dinitrofenol dapat diikat antibodi, tetapi bahan tersebut sendiri
tidak dapat mengaktifkan sel B (tidak imunogenik). Untuk mengacu respon
antibodi, bahan kecil tersebut perlu diikat oleh molekul besar. Hapten
merupakan sejumlah molekul kecil yang dapat bereaksi dengan antibodi namun
tidak dapat menginduksi produksi antibodi.
D.Klasifikasi Antigen
1.Pembagian antigen menurut epitop
a.Unideterminan, univalen
Hanya satu jenis determinan/ epitop pada satu molekul.
b. Unideterminan, multivalen
Hanya satu jenis determinan tetapi dua atau lebih determinan tersebut ditemukan
pada satu molekul.
c. Multideterminan, univalen
Banyak epitop yang bermacam-macam tetapi hanya satu dari setiap macamnya
(kebanyaan protein).
d. Multideterminan, multivalen
Banyak macam determinan dan banyak dari setiap macam pada satu molekul
2. Pembagian antigen menurut
spesifisitas
a. Heteroantigen, yang dimiliki oleh banyak spesies
b. Xenoantigen, yang hanya dimiliki oleh banyak spesies tertentu
c. Aloantigen (isoantigen), yang spesifik untuk individu dalam satu spesies
d. Atigen organ spesifik, yang hanya dimiliki organ tertentu
e. Autoantigen, yang dimiliki alat tubuh sendiri
3. Pembagian antigen menurut
ketergantungan terhadap sel T
a. T dependen, yang memerlukan pengenalan sel T terlebih dahulu untuk dapat
menimbulkan respon antibodi.
b. T independen, yang dapat merangsang sel B tanpa bantuan sel T untuk mebentuk
antibodi.
4. Pembagian antigen menurut sifat
kimiawi
a. Hidrat arang (polisakarida)
Hidrat arang pada umumnya imunogenik.
b. Lipid
Lipid biasanya tidak imunogenik kecuali bila diikat protein pembawa.
c. Asam nukleat
Asam nukleat tidak imunogenik, tetapi dapat menjadi imunogenik bila diikat
protein molekul pembawa.
d. Protein
Kebanyakan protein adalah imunogenik dan pada umumnya multideterminan dan
univalent.
E. Sifat-Sifat Antigen
Antigen memiliki beberapa sifat-sifat yang khas pada antigen tersebut,
sifat-sifat tersebut antaralain:
1. Keasingan
Kebutuhan utama dan pertama suatu molekul untuk memenuhi syarat sebagai
imunogen adalah bahwa zat tersebut secara genetik asing terhadap hospes.
2. Sifat-sifat Fisik
Agar suatu zat dapat menjadi imunogen, ia harus mempunyai ukuran minimum
tertentu, imunogen yang mempunyai berat molekul yang kecil, respon terhadap
hospes minimal, dan fungsi zat tersebut sebagai hapten sesudah bergabung dengan
proten-proten jaringan.
3. Kompleksitas
Faktor-faktor yang mempengaruhi kompleksitas imunogen meliputi baik sifat fisik
maupun kimia molekul.
4. Bentuk-bentuk (Conformation)
Tidak adanya bentuk dari molekul tertentu yang imunogen. Polipeptid linear atau
bercabang, karbohidrat linear atau bercabang, serta protein globular, semuanya
mampu merangsang terjadinya respon imun.
5. Muatan (charge)
Imunogenitas tidak terbatas pada molekuler tertentu; tidak terbatas pada molekuler
tertentu, zat-zat yang bermuatan positif, negatif, dan netral dapat imunogen.
Namun demikian imunogen tanpa muatan akan memunculkan antibodi yang tanpa
kekuatan.
6. Kemampuan masuk
Kemampuan masuk suatu kelompok determinan pada sistem pengenalan akan
menentukan hasil respon imun.
F. Reaksi Antigen dan Antibodi
Dalam lingkungan sekitar kita terdapat banyak substansi bermolekul kecil yang
bisa masuk ke dalam tubuh. Substansi kecil tersebut bisa menjadi antigen bila
dia melekat pada protein tubuh kita. Substansi kecil yang bisa berubah menjadi
antigen tersebut dikenal dengan istilah hapten. Substansi-substansi tersebut
lolos dari barier respon non spesifik (eksternal maupun internal), kemudian
substansi tersebut masuk dan berikatan dengan sel limfosit B yang akan
mensintesis pembentukan antibodi.
Sebelum pertemuan pertamanya dengan sebuah antigen, sel-sel-B menghasilkan
molekul immunoglobulin IgM dan IgD yang tergabung pada membran plasma untuk
berfungsi sebagai reseptor antigen. Jumlahnya mencapai 50.000 sampai 100.000
per sel dan semuanya spesifik bagi satu determinan antigen. Sebuah antigen
merangsang sel untuk membuat dan menyisipkan dalam membrannya molekul
immunoglobulin yang memiliki daerah pengenalan spesifik untuk antigen itu.
Setelah itu, limfosit harus membentuk immunoglobulin untuk antigen yang sama.
Pemaparan kedua kali terhadap antigen yang sama memicu respon imun sekunder
yang segera terjadi dan meningkatkan titer antibodi yang beredar sebanyak 10
sampai 100 kali kadar sebelumnya. Sifat molekul antigen yang memungkinkannya
bereaksi dengan antibodi disebut antigenisitas. Kesanggupan molekul antigen
untuk menginduksi respon imun disebut imunogenitas.
Kespesifikan reaksi antara antigen dan antibodi telah ditunjukkan melalui
penelitian-penelitian yang dilakukan oleh Landsteiner. Ia menggabungkan
radikal-radikal organik kepada protein dan menghasilkan antibodi terhadap
antigen-antigen tersebut. Keputusan yang diperolehi menunjukkan antibodi dapat
membedakan antara kelompok berbeda pada protein ataupun kumpulan kimia yang
sama tetapi berbeda kedudukan. Ikatan yang terjadi terdiri dari ikatan non
kovalen (seperti ikatan hidrogen, van der Waals, elektrostatik, hidrofobik),
sehingga reaksi ini dapat kembali ke semula (reversible). Kekuatan ikatan ini
bergantung kepada jarak antara paratop dan bagian-bagian tertentu pada epitop.
Terdapat berbagai kategori Interaksi antigen-antibodi, kategori tersebut antara
lain:
1. Primer
Interaksi tingkat primer adalah saat kejadian awal terikatnya antigen dengan
antibodi pada situs identik yang kecil, bernama epitop.
2. Sekunder
Interaksi tingkat sekunder terdiri atas beberapa jenis interaksi, di antaranya:
a. Netralisasi
Adalah jika antibodi secara fisik dapat menghalangi sebagian antigen
menimbulkan effect yang merugikan. Contohnya adalah dengan mengikat toksin
bakteri, antibody mencegah zat kimia ini berinteraksi dengan sel yang rentan.
b. Aglutinasi
Adalah jika sel-sel asing yang masuk, misalnya bakteri atau transfusi darah
yang tidak cocok berikatan bersama-sama membentuk gumpalan
c. Presipitasi
Adalah jika komplek antigen-antibodi yang terbentuk berukuran terlalu besar,
sehingga tidak dapat bertahan untuk terus berada di larutan dan akhirnya
mengendap.
d. Fagositosis
Adalah jika bagian ekor antibodi yang berikatan dengan antigen mampu mengikat
reseptor fagosit (sel penghancur) sehingga memudahkan fagositosis korban yang
mengandung antigen tersebut.
e. Sitotoksis
Adalah saat pengikatan antibodi ke antigen juga menginduksi serangan sel
pembawa antigen oleh killer cell (sel K). Sel K serupa dengan natural killer
cell kecuali bahwa sel K mensyaratkan sel sasaran dilapisi oleh antibodi
sebelum dapat dihancurkan melalui proses lisis membran plasmanya.
3. Tersier
Interaksi tingkat tersier adalah munculnya tanda-tanda biologik dari interaksi
antigen-antibodi yang dapat berguna atau merusak bagi penderitanya. Pengaruh
menguntungkan antara lain: aglutinasi bakteri, lisis bakteri, immnunitas
mikroba,dan lain-lain. Sedangkan pengaruh merusak antara lain: edema, reaksi
sitolitik berat, dan defisiensi yang menyebabkan kerentanan terhadap infeksi.
Daftar Pustaka
Baratawidjaja, 2006, Imunologi
Dasar, Edisi ke-7, Penerbit FKUII, Jakarta.
Bloom, 2002, Buku Ajar Histologi,
Edisi 12, diterjemahkan oleh Jan Tambayong, Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta.
Sudiana, 2005, Konsep Dasar
Imunologi, Universitas Airlangga, Surabaya available at
http://www.ners.unair.ac.id/materikuliah/DASAR%20IMUNOLOGI.pdf (diakses Oktober
2009).
Laboratorium
Biologi Mulut, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Reaksi antigen-antibodi dapat di deteksi dengan reaksi
sekunder untuk memvisualisasikan reaksi misalkan presipitasi maupun aglutinasi.
Klasifikasi antigen salah satunya bersumber dari alogeneik dengan jenis
alloantigen salah satu contohnya adalah golongan darah. Dua jenis penggolongan
darah yang paling penting adalah penggolongan ABO dan Rhesus (faktor Rh).
Membran sel darah merah pada sebagian besar individu mengandung suatu substansi
golongan darah tipe A, tipe B, tipe AB, tipe O. Penggolongan sistem ABO
didasarkan pada ada atau tidaknya aglutinasi antara antigen-antibodi yang
terdapat dalam darah, sedangkan penggolongan Rh berdasarkan ada atau
tidaknya antigen D. Jika seseorang dengan Rh negatif (tidak mempunyai antigen
D) terpajan dengan darah Rh positif (mempunyai antigen D), maka tubuh akan
membentuk anti-Rh sehingga menyebabkan aglutinasi. Untuk melihat adanya aglutinasi, tes yang dilakukan
adalah mereaksikan darah sebagai antigen dan larutan anti sera( Anti-A, Anti-B,
Anti-C, dan Anti-D). Aglutinasi dapat menunjukkan golongan darah. Sedangkan
pada penghitungan jenis leukosit sample darah dibuat sediaan tipis lalu dicat
dengan Giemsa 3%. Kemudian sediaan diamati dibawah mikroskop, dilakukan
perhitungan macam jenis leukosit per 100 sel leukosit sepanjang sediaan apus.
Hasil penghitungan dilaporkan dalam bentuk persen. Kedua percobaan tersebut dilakukan pada tiga orang
probandus dengan hasil :
Probandus I : golongan darah O, Rh
positif, basofil 0%, eosinofil 0%, netrofil 0%, limfosit 75%, monosit 18%
Probandus II: golongan darah O, Rh
positif, basofil 2,4%, eosinofil 14,8%, netrofil 54,3%, limfosit 8,6%,
monosit 7,4 %
Probandus III: golongan darah O, Rh
positif, basofil 10,1%, eosinofil 10,1%, netrofil 43,4%, limfosit 30,4%,
monosit 5,7 %
Penghitungan Diffferential Blood Count (DBC) ternyata
secara klinis juga sangat membantu dalam diagnosis suatu kondisi patologis.
Kenaikan titer salah satu atau beberapa jenis leukosit memberi makna kondisi
tertentu yang dapat fisiologis maupun patologis. Kata kunci : aglutinasi, hitung diferensial leukosit,
antigen, antibody
PENDAHULUAN Dalam pengertian paling luas , immunologi mengacu pada
semua mekanisme pertahanan yang dapat di mobilisasi oleh tubuh untuk memerangi
ancaman invasi asing. Respon imun itu hampir seluruhnya diperantarai oleh
limfosit B dan limfosit T. Saat terjadi respon imun terhadap benda asing,
limfosit B terutama terlibat dalam menghasilkan protein-protein globular yang
disebut Antibodi.(Fried, G.H and Fried, G.J., 2006). Imunigenisitas dapat di
definisikan sebagai sesuatu zat (immunogen) yang memberikan zat tersebut
kemampuan membangkitkan respon imun spesifik baik antibody maupun imunitas
seluler. Bagian dari struktur tiga dimensi tiap imunogen mengandung kelompok
permukaan misalnya asam amino dalam suatu protein globularatau sisi rantai
sakarida yang menonjol pada polisakarida. Struktur ini diberi nama determinan
antigenic atau epitop dan menyajikan daerah aktif terpapar, dengan mana
antibody menyatu .(Bellanti & Jackson, 1993) Jika terdapat suatu agen asing yang dapat dikenali oleh
system imunitas, maka hal ini dapat memicu produksi molekul protein khusus yang
secara umum disebut antibodi. Antibodi sendiri merupakan senjata utama respon
humoral. Reseptor sel T yang akan mengenali agensia asing tersebut secara
spesifik dan mengikatnya. Molekul yang dapat dikenali dan diikat oleh
reseptor sel T yang disebut antigen (antibody generating surface).(Yuwono,2008) Interaksi antigen-antibodi dapat dibagi dalam 3 kategori:
(1)primer, (2) sekunder,(3) tersier. Interaksi
primer atau interaksi awal antigen dengan antibody adalah suatu kejadian dasar
yang terdiri dari pengikatan molekul antigen dengan antibody. deteksi biasanya
dikerjakan dengan reaksi sekunder, yang merupakan alat bantu untuk
memvisualisasikan reaksi, misalnya presipitasi. Reaksi tersier merupakan ekspresi
biologik dari interaksi antigen-antibodi yang dapat berguna untuk merusak. Pada
Aglutinasi, fase pertama penyatuan antigen-antibodi terjadi seperti pada
presipitasi dan tergantung pada kekuatan ion, pH dan suhu. Pada aglutinasi sel
darah merah, misalnya dimana reseptor antigenik mungkin terletak pada cekungan
yang dalam pada permukaan sel, antibody diikat kuat pada sisi reseptor pada
satu sel. (Bellanti, 1993) Ketika transfusi darah dari orang ke orang, transfusi hanya
berhasil baik pada beberapa keadaan. Seringkali timbul aglutinasi dan hemolisis
sel darah merah bahkan dapat juga menyebabkan kematian. Ternyata hal itu
dikarenakan darah dari orang yang berbeda biasanya mempunyai sifat antigen dan
imunitas yang berbeda, sehingga antibodi dalam plasma darah seseorang akan
bereaksi dengan antigen pada permukaan sel darah merah orang lain. Karl
Landsteiner menggolongkan darah manusia menjadi A, B, AB, dan O. Metode
klasifikasi berdasarkan jenis antigen dan antibodi yang terkandung dalam
darahnya. Jenis penggolongan darah lain adalah dengan memanfaatkan faktor
Rhesus atau faktor Rh. Tubuh kita ini mempunyai sistem pertahanan tubuh yang
bekerja melalui dua cara. Pertama adalah merusak benda asing yang menyerbu
(antigen) dengan cara fagositosis. Kedua, menon-aktifkan benda asing
tadi dengan membentuk antibodi spesifik. Proses yang kedua ini telah
dicontohkan pada kasus golongan darah yang telah dijelaskan sebelumnya. Sedang
untuk proses fagositosis sendiri dilakukan oleh leukosit Ada enam macam sel
darah putih yang secara normal ditemukan dalam darah. Netrofil
polimorfonuclear, eosinofil polimorfonuclear, basofil polimorfonuclear,
merupakan sel-sel yang polimorfonuclear (berinti >1) dan mempunyai gambaran
granular, maka disebut sel granulosit. Fungsi utama limfosit dan sel plasma
adalah berhubungan dengan sistem imun seseorang. Sel-sel darah putih manusia
normalnya berkisar antara 4.000 – 11.000 sel per mikroliter darah . Rentang
normal elemen seluler pada darah manusia dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Sel/
mL (rata-rata)
Rentang
normal
Presentase
WBC
Total WBC
9.000
4000 – 11.000
…
Granulocytes
Neutrophils
5.400
3.000 – 6.000
50 – 70
Eosinophils
275
150 – 300
1 – 4
Basophils
35
0 – 100
0,4
Lymphocytes
2.750
1.500 – 4.000
20 – 40
Monocytes
540
300 – 600
2 – 8
Erythrocytes
4,8 – 5,4 X 106
…
…
Platelets
300.000
200.000 – 500.000
…
Di antara sel dalam tabel di atas, granulosit (leukosit
PMN) yang paling banyak. Granulosit muda mempunyai inti berbentuk seperti tapal
kuda yang menjadi multilobulus waktu sel tumbuh menjadi semakin tua. Sebagian
besar granulosit mengandung granula yang berwarna dengan zat warna asam
(eosinofil) dan sebagian mempunyai granula basofilik (basofil). Dua jenis sel
lainnya yang normal ditemukan dalam darah tepi adalah limfosit, yaitu sel
dengan inti besar dan bulat dan sedikit sitoplasma, dan monosit, yaitu sel
dengan banyak sitoplasma agranuler dan inti berbentuk ginjal.(Ganong, 2001) Tujuan dari praktikum ini adalah agar mahasiswa mampu
melakukan tes aglutinasi terhadap pemeriksaan golongan darah dan menjelaskan
hasilnya, memahami dan mempelajari prosedur pembuatan sediaan sampel darah
dengan metode oles (smear methods), serta mengenal beberapa istilah dalam
bidang imunobiologi.
BAHAN
DAN CARA
v Pemeriksaan Golongan
Darah ABO dan Rh A. Alat dan Bahan 1. Gelas obyek 2. Satu set larutan anti sera a. Serum anti-A, warna biru b. Serum anti-B, warna kuning c. Serum anti-AB, tidak berwarna d. Serum anti-D berisi IgG dan IgM, tidak
berwarna B. Cara Kerja 1.Menyiapkan gelas obyek dan menandainya dengan empat buah
tanda yaitu daerah A, B, AB,dan D. 2.Pada tiap tanda diteteskan darah dari probandus
masing-masing satu tetes. Berturut-turut serum anti-A, anti-B, anti-AB, dan
anti-D diteteskan pada setiap tetes darah yang ada di atas gelas obyek sesuai
dengan tanda yang tertera. 3.Tiap campuran tetes darah dan tetes serum diaduk dengan
ujung gelas obyek yang lain. Identifikasi dan Kuantitatif Sel Leukosit
v Pembuatan Sediaan Film Darah Tipis 1. Menyiapkan dua buah gelas obyek, A dan B. 2. Meneteskan darah pada sisi kanan gelas obyek
A. 3. Menarik gelas obyek B sedikit ke belakang
sehingga tetesan darah dari gelas obyek A tersentuh dan terjadi gaya
kapilaritas, sehingga darah tersebar sepanjang sisi gelas obyek B. Antara gelas
obyek A dan B dibentuk sudut kira-kira 25o-45o. 4. Mendorong gelas obyek B ke sisi kiri gelas
obyek A dengan mantap dan cepat sehingga terjadi film darah yang tipis.
Melakukan pengecatan satu jam setelah pembuatan. v Pengecatan 1. Melakukan fiksasi dengan mencelupkan sediaan
dalam wadah yang berisi methyl-alkohol selama 3-4 menit kemudian
mengeringkannya dalam suhu ruang. 2. Menetesi seluruh permukaan sediaan oles
dengan cat Giemsa 3% selama 30-40 menit. 3. Kemudian mencuci sediaan yang telah dicat
tersebut dengan aquades dingin dan mengeringkannya pada suhu ruang. v Cara Pemeriksaan Sediaan diamati mulai dari daerah kepala hingga ekor dengan
mikroskop pada perbesaran obyektif 10 kali. Bagian yang diamati adalah bagian
yang eritrositnya tidak saling menumpuk. Setelah itu meneteskan minyak imersi
dan mengamati dengan perbesaran mikroskop 100 kali. Menghitung masing-masing
jenis leukosit per 100 sel leukosit, hasil dilaporkan dalam persen.
HASIL
PENGAMATAN
Pemeriksaan Golongan Darah ABO dan Rh, serta Identifikasi
dan Kuantitatif Sel Leukosit masing-masing dilakukan terhadap tiga orang
probandus. Dari ketiga percobaan tersebut didapatkan hasil sebagai berikut: Tabel hasil pemeriksaan golongan darah ABO dan Rh
Aglutinasi
Terjadi Pada
Penilaian
Golongan Darah
Aglutinasi
Terjadi Pada
Penilaian
Anti-A
Anti-B
Anti-AB
Anti-D
Rh
Probandus
1
-
-
-
O
+
Positif
Probandus
2
-
-
-
O
+
Positif
Probandus
3
-
-
-
O
+
Positif
hasil praktikum pengetesan golongan
darah
Probandus 1 Probandus 2 Probandus 3 v Identifikasi leukosit
Macam
Sel
Probandus
1
Probandus
2
Probandus
3
Basofil
0%
24%
10,1%
Eosinofil
0%
14,8%
10,1%
Netrofil
6%
54,3%
43,4%
Limfosit
75%
8,6%
30,4%
Monosit
18%
7,4%
5,7 %
Keterangan: *Perhitungan probandus 1 menggunakan perbesaran 1000x *Probandus 2 dan 3 menggunakan perbesaran 400X
PEMBAHASAN
Kelompok antigen yang memiliki banyak arti klinis adalah
kelompok antigen yang dikenal sebagai antigen alogeneik, yaitu antigen yang
secara genetic diatur oleh determinan antigenic yang membedakan satu individu
spesies tertentu dari individu lain pada spesies yang sama. Pada manusia
determinan antigenic semacam ini terdapat pada sel darah merah, contoh
alloantigen: ABO, RHo, golongan darah(disebut isoantigen), memiliki fungsi
klinik untuk penyakit hemofilik pada neonatus dan reaksi transfusi.(Bellanti
& Jackson, 1993) Penggolongan darah sistem ABO yang kita kenal ditentukan
berdasarkan ada atau tidaknya aglutinogen A dan B.Aglutinogen merupakan
antigen, disebut juga aglutinogen karena dia mampu menyebabkan reaksi
aglutinasi sel darah. Bila tidak terdapat aglutinogen tipe A dalam sel
darah merah seseorang, maka dalam plasmanya akan terbentuk antibodi yang
dikenal sebagai aglutinin anti-A. Demikian pula, bila tidak terdapat
aglutinogen tipe-B di dalam sel darah merah, maka dalam plasmanya terbentuk antibodi
yang dikenal sebagai aglutinin anti-B. Golongan darah O, meskipun
tidak mengandung aglutinogen, tetapi mengandung agglutinin anti-A dan anti-B.
Golongan darah A mengandung aglutinogen tipe-A dan aglutinin anti-B, sedangkan
golongan darah B mengandung aglutinogen tipe-B dan aglutinin anti-A. Golongan
darah AB mengandung kedua aglutinogen A dan B, tetapi tidak mengandung
aglutinin sama sekali.
Golongan
Darah
Aglutinogen
Aglutinin
O
-
Anti-A dan Anti-B
A
A
Anti-B
B
B
Anti-A
AB
A dan B
-
Tabel golongan darah beserta aglutinogen dan aglutininnya Pemeriksaan Golongan Darah ABO dan Rh pada percobaan kali
ini menggunakan sampel darah yang dicampur aglutinin anti-A dan aglutinin
anti-B, kemudian diamati sel darah merah yang “teraglutinasi” untuk mengetahui
adanya reaksi antibodi-antigen. Dari ketiga probandus, semuanya bergolongan
darah O karena saat ditetesi serum anti-A dan anti-B tidak terjadi reaksi
aglutinasi. Jika individu memiliki aglutinin Anti-A dan Anti-B ditetesi dengan
serum yang sama, maka tidak terjadi ikatan antigen-antibodi yang secara
makroskopis dapat diamati dengan reaksi aglutinasi. (Guyton & Hall, 2007) Bila darah yang tidak cocok dicampur sehingga aglutinin
plasma anti-A atau anti-B dicampur dengan sel darah merah yang mengandung aglutinogen
A atau B, terjadilah aglutinasi sel darah merah. Terdapat dua tahapan
aglutinasi, yang pertama adalah perlekatan molekul antibodi dengan antigen yang
tidak terlarut, kedua terjadi pembentukan pola-pola geometris (Sheehan, 1997).
Menurut Guyton & Hall (2007), proses aglutinasi diawali oleh aglutinin
bivalen atau polivalen yang akan melekatkan diri pada sel darah merah. Karena
aglutinin mempunyai dua tempat pengikatan (tipe IgG) atau 10 tempat pengikatan
(IgM), maka satu aglutinin dapat melekatkan diri pada dua atau lebih sel darah
merah yang berbeda pada waktu yang sama, dengan demikian menyebabkan sel saling
mendekat satu sama lain. Keadaan ini menyebabkan sel-sel menggumpal
bersama-sama (aglutinasi). Kemudian gumpalan ini menyumbat pembuluh darah kecil
di seluruh sistem sirkulasi, dan pada akhirnya terjadi hemolisis sel darah
merah. Seperti yang kita ketahui, karena orang bergolongan darah O
tidak mempunyai antigen A dan B, maka dia bisa mendonorkan darahnya kepada
resipien lain yang tidak sama golongan darahnya. Itulah sebabnya golongan darah
O disebut donor universal. Namun donor darah terkadang juga memberikan efek
tertentu, salah satunya adalah menekan fungsi imunitas seseorang sehingga dapat
meningkatkan kerentanan seseorang terhadap infeksi, tetapi hal ini tidak
terjadi secara tetap. Pada tahun 1997, Eaves-Pyles & Alexander mengemukakan
bahwa kemampuan dari tranfusi darah untuk meningkatkan kemampuan bakteri untuk
menginfeksi bergantung pada faktor genetik seseorang. Pada hasil uji rhesus, didapatkan hasil bahwa ketiga
probandus memiliki rhesus positif ,namun pada probandus ke 2 dibutuhkan dua
kali pengetesan untuk anti D baru didapatkan hasil positif, hal ini
dimungkinkan karena kesalahan praktikan pada saat pemberian jumlah tetesan anti
D pada pengetesan pertama. Seseorang yang mempunyai rhesus positif berarti dia
memiliki antigen D, sedangkan seseorang yang tidak memiliki antigen D dikatakan
sebagai rhesus negatif. Penyakit yang sering berhubungan dengan rhesus adalah
penyakit hemolitik pada janin dan bayi baru lahir, pertama kali dijelaskan pada
1609 dalam rangkaian bayi kembar: bayi pertama adalah hidropik dan lahir mati,
dan bayi kedua sangat kuning dan kemudian meninggal yang sekarang kita sebut kernicterus.
Pada1932, ditemukan bahwa hydrops dan kernicterus adalah dua
aspek dari penyakit yang sama di mana hemolisis sel darah merah janin dan
neonatus mengakibatkan extramedullary erythropoiesis, hepatosplenomegali
dan pencurahan erythroblasts ke dalam sirkulasi, suatu kondisi yang
disebut erythroblastosis fetalis. Kernicterus selanjutnya terbukti
karena pengendapan bilirubin dalam otak. (Bowman, 1998). Hemolytic disease
pada fetus muncul pada bayi dengan RhD yang positif yang dibawa oleh ibu
dengan RhD negatif yang telah diimunisasi sel darah merah dengan RhD
positif melalui transplacental barrier selama periode kehamilan. Antibodi IgG
maternal hingga RhD melewati placenta, melapisi dan menghancurkan sel darah
merah RhD positif janin.(Lo YMD, et al., 1998). Kasus inkompabilitas RhD tidak
hanya membahayakan bayi tetapi juga orang dewasa, khususnya saat melakukan
transfusi darah. Orang dengan RhD negatif lebih berisiko karena ketika mereka
menerima darah dari orang dengan rhesus positif, antibodinya akan menyerang sel
darah merah yang baru masuk tadi. Hal ini dapat menyebabkan aglutinasi dan
bahkan kematian. (Anitei, 2008) Pembahasan selanjutnya mengenai sel darah putih yang
merupakan salah satu komponen sistem pertahanan tubuh kita. Leukosit terdiri
atas sel fagosit dan sel imunosit. Yang termasuk sel fagosit adalah neutrofil
(PMN), eosinofil, basofil, dan monosit. Sedangkan limfosit dan sel plasma
termasuk sel imunosit. Pada keadaan normal, perbandingan persentase komponen
leukosit adalah : netrofil 62%, eosinofil 2,3%, basofil 0,4%, monosit 5,3%,
limfosit 30%. Persentase netrofil akan mengalami peningkatan saat terjadi
infeksi bakteri, eosinofil meningkat pada reaksi alergi dan infeksi parasit,
sedangkan basofil akan meningkat jumlahnya pada kondisi inflamasi jaringan.(
Bregman, 1996). Penghitungan diferensial leukosit ternyata memberi makna
klinis yang signifikan terhadap beberapa kelainan di dalam tubuh. Leukosit
memiliki peranan sebagai pertahanan tubuh terhadap berbagai agen toksik dan
infeksi. Mekanismenya antara lain dengan menghancurkan agen invasif melalui
proses fagositosis dan membentuk antibodi dan limfosit yang disensitifkan.
Kenaikan titer salah satu atau beberapa jenis leukosit ternyata memberikan
indikasi penyakit tertentu, misalnya apendisitis, terjadi kenaikan leukosit dan
netrofil yang cukup signifikan dan berperan dalam proses inflamasi. Bahkan
derajat inflamasi apendisitis dapat diketahui dengan jumlah leukosit dan
netrofil PMN pasien. (Horng-Ren Yang, et al, 2006). Berbagai
keadaan-keadaan yang menyebabkan peningkatan dan penurunan jumlah sel leukosit.
Neutrofil leukositosis
Dikatakan leukositosis apabila jumlah neutrofil berada pada
level > 7,5 x 109. Karakteristik leukositosis:
terjadinya pergeseran ke kiri dari dalam differential white cell count pada
apusan darah tepi. ada beberapa penyebab neutrofil leukositosis, yaitu :
Infeksi bakteri (bakteri pyogenic), Inflamasi dan nekrosis jaringan, kelainan
metabolisme, misal, uremia, asidosis, gout, Neoplasma, hemolisis atau hemorargi
akut, terapi kortikosteroid.
Neutropenia
Jumlah neutrofil terendah adalah sekitar 2,5 X 109/l.
Ketika level neutrofil absolute mencapai 0,5 X 109/l
menandakan pasien mempunyai infeksi yang sifatnya kambuhan (recurrent) dan pada
saat jumlahnya hanya 0,2 X 109/l, menandakan bahwa ada kelainan
fungsi tubuh.
(Hoffbrand &
Pettit, 1998)
Pada percobaan Identifikasi dan Kuantitatif Sel Leukosit
dilakukan penghitungan jenis leukosit per 100 sel leukosit, dan hasilnya diubah
dalam persen. Penghitungan pada sampel darah probandus 1 dengan menggunakan
perbesaran 1000X didapatkan hasil sebagai berikut : basofil 0%, eosinofil 0%,
netrofil 0%, limfosit 75%, monosit 18%. Selanjutnya Probandus II menggunakan
perbesaran 400x didapat hasil: basofil 2,4%, eosinofil 14,8%, netrofil 54,3%,
limfosit 8,6%, monosit 7,4 %, sedangkan pada probandus III didapat hasil:
basofil 10,1%, eosinofil 10,1%, netrofil 43,4%, limfosit 30,4%, monosit 5,7 %.
Jumlah eosinofil, basofil dan monosit relatif sedikit pada persentase.
Mengingat fungsi utama netrofil adalah fagositosis, sehingga kenaikan netrofil
menjadi dalah satu indikator proses inflamasi (peradangan) dan infeksi.
Leukosit ini juga memberi respon fagositik dan berperan pada proses peradangan.
Secara klinis, eosinofilia terjadi terutama jika terjadi reaksi alergi dan
infeksi cacing, sedangkan basofil berperan dengan sel mast dalam melepaskan
heparin ke dalam darah sehingga mencegah koagulasi darah. Hasil yang didapatkan berbeda dengan standar teori yang
ada. Kesalahan ini selain disebabkan karena kesalahan pada saat
mengidentifikasi, juga dapat dikarenakan terjadinya penghitungan ulang pada
wilayah yang sama pada saat mengamati dengan mikroskop. Penggunaan perbesaran
mikroskop yang berbeda dalam perhitungan juga bisa menjadi salah satu pemicu
perbedaan hasil. Kesalahan lain bisa disebabkan pada saat pembuatan preparat
apus, dimana sampel darah yang digunakan terlalu tebal ataupun terlalu tipis
sehingga tidak terlihat pada saat pengamatan dengan mikroskop. Kemungkinan
terakhir yakni tubuh probandus benar-benar sedang dalam keadaan patologis
KESIMPULAN
Aglutinasi yang terjadi pada pemeriksaan golongan darah
menunjukkan adanya interaksi antara antigen-antibodi yang sejenis. Penghitungan
diferensial jumlah relatif leukosit berfungsi untuk mengetahui kondisi-kondisi
patologis yang secara klinis dapat diketahui dengan pemeriksaan laboratorium.
Interaksi antigen dengan antibodi bersifat non-covalen dan pada umumnya sangat
spesifik. Antibodi hanya diproduksi oleh limfosit B dan disebarkan keseluruh
tubuh secara eksositosis dalam bentuk plasma dan cairan sekresi. Mereka membentuk
sel B antigen reseptor yang spesifik. Antibodi ditemukan dalam plasma juga
berikatan dengan reseptor spesifik untuk daerah konstan (Fc) dari
imunoglobulin. Mereka juga ditemukan dalam cairan sekresi seperti mukus, susu
dan keringat.
Pada dasarnya satu unit struktur antibodi pada mamalia adalah glikoprotein
(berat molekul sekitar 150.000 dalton) yang terdiri dari empat rantai
polipeptida. Semua antibodi mempunyai bentuk struktur yang sama yaitu dua
rantai pendek (VL) dan dua rantai panjang (VH). Bentuk tersebut dihubungkan
dengan bentuk kovalen (disulfida) dan erat hubungannya dengan sequens asam
amino yang mempunyai struktur sekunder dan tertier.
Setiap rantai pendek (VL) berat molekulnya sekitar 25.000 dalton, dimana ada
dua jenis rantai pendek yaitu lambda (λ) atau kappa (κ). Pada manusia terdiri
dari 60% adalah kappa dan 40% lambda, sedangkan pada mencit 95% kappa dan 5%
lambda. Satu molekul antibodi hanya mengandung lambda saja atau kappa saja dan
tidak pernah keduanya.
Rantai panjang juga dapat meningkatkan fungsi aktifitas
dari molekul antibodi. Ada 5 klas antibodi yaitu: IgG, IgA, IgM, IgE dan IgD,
yang dibedakan menurut jenis rantai panjangnya masing-masing yaitu: γ, α, μ, ε
dan δ. Klas antibodi IgD, IgE dan IgG terbentuk dari struktur tunggal,
sedangkan IgA mengandung dua atau tiga unit dan IgM terdiri dari 5 yang
dihubungkan dengan sambungan disulfida. Antibodi IgG dibagi menjadi 4 subklas
(disebut juga isotipe) yaitu IgG1, IgG2, IgG3, dan IgG4.
Struktur dan fungsi IgG dapat dipecah oleh enzim pepsin
dan papain menjadi beberapa fragmen yang mempunyai sifat biologi yang khas.
Perlakuan dengan pepsin dapat memisahkan Fab2 dari daerah persambungan hinge
(engsel). Karena Fab2 adalah merupakan molekul bivalen sehingga ia dapat
mempresipitasi antigen. Enzim papain dapat memutus daerah hinge diantara CH1
dan CH2 untuk membentuk dua fragmen yang identik dan dapat bertahan dengan
reaksi antigen-antibodi dan juga satu non-antigen-antibodi fragmen yaitu daerah
fragmen kristalisabel (Fc). Bagian Fc ini adalah glikosilat yang mempunyai
banyak fungsi efektor (yaitu: binding komplemen, binding dengan sel reseptor
pada makrofag dan monosit dan sebagainya) dan dapat digunakan untuk membedakan
satu klas antibodi dengan lainnya.
Imunoglobulin A (IgA).
Imunoglobulin A adalah antibodi sekretori, ditemukan dalam
saliva, keringat, air mata, cairan mukosa, susu, cairan lambung dan sebgainya.
Yang aktiv adalah bentuk dimer (yy), sedangkan yang monomer (y) tidak aktif.
Jaringan yang mensekresi bentuk bentuk dimer ini ialah sel epithel yang
bertindak sebagai reseptor IgA, yang kemudian sel tersebut bersama IgA masuk
kedalam lumen. Fungsi dari IgA ini ialah:
- Mencegah kuman patogen menyerang permukaan sel mukosa
- Tidak efektif dlam mengikat komplemen
- Bersifat bakterisida dengan kondisinya sebagai lysozim
yang ada dalam cairan sekretori yang mengandung IgA
- Bersifat antiviral dan glutinin yang efektif
Imunoglobulin D (IgD)
Imunoglobulin D ini berjumlah sedikit dalam serum. IgD
adalah penenda permukaan pada sel B yang matang. IgD dibentuk bersama dengan
IgM oleh sel B normal. Sel B membentuk IgD dan IgM karena untuk membedakan unit
dari RNA.
Imunoglobulin E (IgE)
Imunoglobulin E ditemukan sedikit dalam serum, terutama
kalau berikatan dengan mast sel dan basophil secara efektif, tetapi kurang
efektif dengan eosinpphil. IgE berikatan pada reseptor Fc pada sel-sel
tersebut. Dengan adanya antigen yang spesifik untuk IgE, imunoglobulin ini
menjadi bereaksi silang untuk memacu degranulasi dan membebaskan histamin dan
komponen lainnya sehingga menyebabkan reaksi anaphylaksis. IgE sangat berguna
untuk melawan parasit.
Imunoglobulin M (IgM)
Imunoglobulin m ditemukan pada permukaan sel B yang
matang. IgM mempunyai waktu paroh biologi 5 hari, mempunyai bentuk pentamer
dengan lima valensi. Imunoglobulin ini hanya dibentuk oleh faetus. Peningkatan
jumlah IgM mencerminkan adanya infeksi baru atai adanya antigen
(imunisasi/vaksinasi). IgM adalah merupakan aglutinin yang efisien dan
merupakan isohem- aglutinin alamiah. IgM sngat efisien dalam mengaktifkan
komplemen. IgM dibentuk setelah terbentuk T-independen antigen, dan setelah
imunisasi dengan T-dependent antigen.
Imunoglobulin G (IgG)
Imunoglobulin G adalah divalen antigen. Antibodi ini
adalah imunoglobulin yang paling sering/banyak ditemukan dalam sumsum tulang
belakang, darah, lymfe dan cairan peritoneal. Ia mempunyai waktu paroh biologik
selama 23 hari dan merupakan imunitas yang baik (sebagai serum transfer). Ia
dapat mengaglutinasi antigen yang tidak larut. IgG adalah satu-satunya
imunoglobulin yang dapat melewati plasenta. Kemampuannya melewati plasenta
untuk setiap jenis hewan berturut-turut adalah:
Rodentia>primata>anjing/kucing> manusia=babi=kuda. IgG adalah opsonin
yang baik sebagai pagosit pada ikatan IgG reseptor. Imunoglobulin ini
merangsang “antigen-dependen cel-mediated cytotoxicity” (ADCC)-IgG Fab untuk
mengikat target sel, “Natural Killer”(NK) Fc-reseptor, mengikat Ig Fc, dan sel
NK membebaskan citotoksik pada sel target. IgFc juga mengaktifkan komplemen,
menetralkan toksin, imobilisasi bakteri dan menghambat serangan virus.
STRUKTUR IMUNOGLOBULIN
Imunoglobulin
atau antibodi adalah sekelompok glikoprotein yang terdapat dalam serum atau
cairan tubuh pada hampir semua mamalia. Imunoglobulin termasuk dalam famili
glikoprotein yang mempunyai struktur dasar sama, terdiri dari 82-96%
polipeptida dan 4-18% karbohidrat. Komponen polipeptida membawa sifat biologik
molekul antibodi tersebut. Molekul antibodi mempunyai dua fungsi yaitu mengikat
antigen secara spesifik dan memulai reaksi fiksasi komplemen serta pelepasan
histamin dari sel mast. Pada manusia dikenal 5 kelas imunoglobulin. Tiap kelas
mempunyai perbedaan sifat fisik, tetapi pada semua kelas terdapat tempat ikatan
antigen spesifik dan aktivitas biologik berlainan. Struktur dasar imunoglobulin
terdiri atas 2 macam rantai polipeptida yang tersusun dari rangkaian asam amino
yang dikenal sebagai rantai H (rantai berat) dengan berat molekul 55.000 dan
rantai L (rantai ringan) dengan berat molekul 22.000. Tiap rantai dasar
imunoglobulin (satu unit) terdiri dari 2 rantai H dan 2 rantai L. Kedua rantai
ini diikat oleh suatu ikatan disulfida sedemikian rupa sehingga membentuk
struktur yang simetris. Yang menarik dari susunan imunoglobulin ini adalah
penyusunan daerah simetris rangkaian asam amino yang dikenal sebagai daerah domain,
yaitu bagian dari rantai H atau rantai L, yang terdiri dari hampir 110 asam
amino yang diapit oleh ikatan disulfid interchain, sedangkan ikatan
antara 2 rantai dihubungkan oleh ikatan disulfid interchain.Rantai
L mempunyai 2 tipe yaitu kappa dan lambda, sedangkan rantai H terdiri dari 5
kelas, yaitu rantai G (γ), rantai A (α), rantai M (μ), rantai E (ε) dan rantai
D (δ). Setiap rantai mempunyai jumlah domain berbeda. Rantai pendek L mempunyai
2 domain; sedang rantai G, A dan D masing-masing 4 domain, dan rantai M dan E
masing-masing 5 domain.
Rantai dasar imunoglobulin dapat
dipecah menjadi beberapa fragmen. Enzim papain memecah rantai dasar menjadi 3
bagian, yaitu 2 fragmen yang terdiri dari bagian H dan rantai L. Fragmen ini
mempunyai susunan asam amino yang bervariasi sesuai dengan variabilitas
antigen. Fab memiliki satu tempat tempat pengikatan antigen (antigen binding
site)yang menentukan spesifisitas imunoglobulin. Fragmen lain
disebut Fc yang hanya mengandung bagian rantai H saja dan mempunyai susunan
asam amino yang tetap. Fragmen Fc tidak dapat mengikat antigen tetapi memiliki
sifat antigenik dan menentukan aktivitas imunoglobulin yang bersangkutan,
misalnya kemampuan fiksasi dengan komplemen, terikat pada permukaan sel
makrofag, dan yang menempel pada sel mast dan basofil mengakibatkan degranulasi
sel mast dan basofil, dan kemampuan menembus plasenta.
Enzim pepsin memecah unit dasar
imunoglobulin tersebut pada gugusan karboksil terminal sampai bagian sebelum
ikatan disulfida (interchain)dengan akibat kehilangan sebagian
besar susunan asam amino yang menentukan sifat antigenik determinan, namun
demikian masih tetap mempunyai sifat antigenik. Fragmen Fab yang tersisa
menjadi satu rangkaian fragmen yang dikenal sebagai F(ab2) yang mempunyai 2
tempat pengikatan antigen (lihat Gambar 9-5).
KLASIFIKASI IMUNOGLOBULIN
Klasifikasi imunoglobulin berdasarkan kelas rantai H.
Tiap kelas mempunyai berat molekul, masa paruh, dan aktivitas biologik yang
berbeda. Pada manusia dikenal 4 sub kelas IgG yang mempunyai rantai berat γl,
γ2, γ3, dan γ4. Perbedaan antar subkelas lebih sedikit dari pada perbedaan
antar kelas.
Imunoglobulin G
IgG mempunyai struktur dasar imunoglobulin yang terdiri
dari 2 rantai berat H dan 2 rantai ringan L. IgG manusia mempunyai koefisien
sedimentasi 7 S dengan berat molekul sekitar 150.000. Pada orang normal IgG
merupakan 75% dari seluruh jumlah imunoglobulin.
Imunoglobulin G terdiri dari 4
subkelas, masing-masing mempunyai perbedaan yang tidak banyak, dengan
perbandingan jumlahnya sebagai berikut: IgG1 40-70%, IgG2 4-20%, IgG3 4-8%, dan
IgG4 2-6%. Masa paruh IgG adalah 3 minggu, kecuali subkelas IgG3 yang hanya
mempunyai masa paruh l minggu. Kemampuan mengikat komplemen setiap subkelas IgG
juga tidak sama, seperti IgG3 > IgGl > IgG2 > IgG4. Sedangkan IgG4
tidak dapat mengikat komplemen dari jalur klasik (ikatan C1q) tetapi melalui
jalur alternatif. Lokasi ikatan C1q pada molekul IgG adalah pada domain CH2.
Gambar 9-5.
Struktur dasar imunoglobulin.
(Dikutip dengan
modifikasi dari DP Stites dan AI Terr, 1991)
Sel makrofag mempunyai reseptor untuk
IgG1 dan IgG3 pada fragmen Fc. Ikatan antibodi dan makrofag secara pasif akan
memungkinkan makrofag memfagosit antigen yang telah dibungkus antibodi
(opsonisasi). Ikatan ini terjadi pada subkelas IgG1 dan IgG3 pada lokasi domain
CH3.
Bagian Fc dari IgG mempunyai bermacam
proses biologik dimulai dengan kompleks imun yang hasil akhirnya pemusnahan
antigen asing. Kompleks imun yang terdiri dari ikatan sel dan antibodi dengan
reseptor Fc pada sel killer memulai respons sitolitik (antibody
dependent cell-mediated cytotoxicity = ADCC) yang ditujukan pada antibodi
yang diliputi sel. Kompleks imun yang berinteraksi dengan sel limfosit pada
reseptor Fc pada trombosit akan menyebabkan reaksi dan agregasi trombosit.
Reseptor Fc memegang peranan pada transport IgG melalui sel plasenta dari ibu
ke sirkulasi janin.
Imunoglobulin M
Imunoglobulin M merupakan 10% dari seluruh jumlah
imunoglobulin, dengan koefisien sedimen 19 S dan berat molekul
850.000-l.000.000. Molekul ini mempunyai 12% dari beratnya adalah karbohidrat.
Antibodi IgM adalah antibodi yang pertama kali timbul pada respon imun terhadap
antigen dan antibodi yang utama pada golongan darah secara alami. Gabungan
antigen dengan satu molekul IgM cukup untuk memulai reaksi kaskade komplemen.
IgM terdiri dari pentamer unit monomerik
dengan rantai μ dan CH. Molekul monomer dihubungkan satu dengan
lainnya dengan ikatan disulfida pada domain CH4 menyerupai gelang dan tiap
monomer dihubungkan satu dengan lain pada ujung permulaan dan akhirnya oleh
protein J yang berfungsi sebagai kunci.
Imunoglobulin A
IgA terdiri dari 2 jenis, yakni IgA dalam serum dan IgA
mukosa. IgA dalam serum terdapat sebanyak 20% dari total imunoglobulin, yang
80% terdiri dari molekul monomer dengan berat molekul 160.000, dan sisanya 20%
berupa polimer dapat berupa dua, tiga, empat atau lima monomer yang dihubungkan
satu dengan lainnya oleh jembatan disulfida dan rantai tunggal J (lihat Gambar
9-6). Polimer tersebut mempunyai koefisien sedimentasi 10,13,15 S.
Gambar 9-6.
Struktur IgA dan sIgA.
(Dikutip dengan
modifikasi dari DP Stites dan AI Terr, 1991)
Sekretori IgA
Sekretori imunoglobulin A (sIgA) adalah imunoglobulin
yang paling banyak terdapat pada sekret mukosa saliva, trakeobronkial,
kolostrum/ASI, dan urogenital. IgA yang berada dalam sekret internal seperti
cairan sinovial, amnion, pleura, atau serebrospinal adalah tipe IgA serum.
SIgA terdiri dari 4 komponen yaitu
dimer yang terdiri dari 2 molekul monomer, dan sebuah komponen sekretori serta
sebuah rantai J. Komponen sekretori diproduksi oleh sel epitel dan dihubungkan
pada bagian Fc imunoglobulin A oleh rantai J dimer yang memungkinkan melewati
sel epitel mukosa (lihat Gambar 4-6). SIgA merupakan pertahanan pertama pada
daerah mukosa dengan cara menghambat perkembangan antigen lokal, dan telah
dibuktikan dapat menghambat virus menembus mukosa.
Imunoglobulin D
Konsentrasi IgD dalam serum sangat sedikit (0,03 mg/ml),
sangat labil terhadap pemanasan dan sensitif terhadap proteolisis. Berat
molekulnya adalah 180.000. Rantai δ mempunyai berat molekul 60.000 – 70.000 dan
l2% terdiri dari karbohidrat. Fungsi utama IgD belum diketahui tetapi merupakan
imunoglobulin permukaan sel limfosit B bersama IgM dan diduga berperan dalam
diferensiasi sel ini.
Provided by
2003
Digitized by USU digital libraray 1
PERANAN LEUKOSIT SEBAGAI ANTI INFLAMASI ALERGIK DALAM
TUBUH
Dr. ZUKESTI EFFENDI
Bagian Histologi
Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara
PENDAHULUAN
Dewasa ini penyakit alergi sudah merupakan penyakit dimana
para sarjana
Kedokteran telah mengembangkan, baik terapi maupun
penelitian-penelitian tentang
perkembangan, pencegahan dan pengobatan alergi maupun
penyakit-penyakit, yang
berhubungan dengan alergi.
Von Pirquet (1906), memperkenalkan istilah alergi untuk suatu
keaadaan
yang disebabkan oleh reaksi imunoligik spesifik. Yang
ditimbulkan oleh allergen
sehingga pada umumnya dalam pertahanan seluler dan humoral
organisme terhadap
benda asing, leukosit sangat berperan.
Dengan berkembangnya biologi molekuler dewasa ini para
ahli imunologi
mengungkapkan pada keadaan alergi akan dilepas
mediator-mediator inflanlasi oleh
sel system imun. Dalam menghadapi penyakit-penyakit yang
didasari iflanlasi alergi,
seperti asma bronchial, rinitis alergika, dermatitis
urtikaria, alergi obat, alergi
makanan maupun alergi dari toksin bakteri yang menyerang
ginjal (glomerulonepritis
chronis yang disebabkan toksin stretococus), untuk ini
perlu penaganan yang serius.
Mediator-mediator inflamasi yang dilepas akan menyebabkan
kontraksimotot polos,
meningkatkan sekresi mukos, meningkatkan aliran darah,
meningkatkan permea
bilitas kapiler dan pengerahan sel-sel inflamasi, kesemua
kejadian ini disebut
“inflamasi alergik". Sel-sel darah yang berperan
dalam kejadian inflamasi alergik ini
adalah sel darah putih atau leukosit dengan turunanya;
neutrofil, basofil, aosinofil,
limfosit, mastosit makrofag, sel plasma, sel epitel dan
lain-lain, akhir-akhir ini para
ahli mengungkapkan pula keterlibatan mediator inflamasi
TNF. Neuropeptida, IL-2.
Histologi leukosit
Leukosit adalah sel darah Yang mengendung inti, disebut
juga sel darah
putih. Didalam darah manusia, normal didapati jumlah
leukosit rata-rata 5000-9000
sel/mm3, bila jumlahnya lebih dari 12000, keadaan ini
disebut leukositosis,
bilakurang dari 5000 disebut leukopenia. Dilihat dalam
mikroskop cahaya maka sel
darah putih mempunyai granula spesifik (granulosit), yang
dalam keadaan hidup
berupa tetesan setengah cair, dalam sitoplasmanya dan
mempunyai bentuk inti yang
bervariasi, Yang tidak mempunyai granula, sitoplasmanya
homogen dengan inti
bentuk bulat atau bentuk ginjal. Terdapat dua jenis
leukosit agranuler : linfosit sel
kecil, sitoplasma sedikit; monosit sel agak besar
mengandung sitoplasma lebih
banyak. Terdapat tiga jenis leukosir granuler: Neutrofil,
Basofil, dan Asidofil (atau
eosinofil) yang dapat dibedakan dengan afinitas granula
terhadap zat warna netral
basa dan asam. Granula dianggap spesifik bila ia secara
tetap terdapat dalam jenis
leukosit tertentu dan pada sebagian besar precursor (pra
zatnya).
Leukosit mempunyai peranan dalam pertahanan seluler dan
humoral
organisme terhadap zat-zat asingan. Leukosit dapat
melakukan gerakan amuboid
dan melalui proses diapedesis lekosit dapat meninggalkan
kapiler dengan menerobos
antara sel-sel endotel dan menembus kedalam jaringan
penyambung.
Jumlah leukosit per mikroliter darah, pada orang dewasa
normal adalah
4000-11000, waktu lahir 15000-25000, dan menjelang hari ke
empat turun sampai
12000, pada usia 4 tahun sesuai jumlah normal. Variasi
kuantitatif dalam sel-sel
2003
Digitized by USU digital libraray 2
darah putih tergantung pada usia. waktu lahir, 4 tahun dan
pada usia 14 -15 tahun
persentase khas dewasa tercapai.
Bila memeriksa variasi Fisiologi dan Patologi sel-sel
darah tidak hanya
persentase tetapi juga jumlah absolut masing-masing jenis
per unit volume darah
harus diambil.
Neutrofil
Neutrofil berkembang dalam sum-sum tulang dikeluarkan
dalam sirkulasi, selsel
ini merupakan 60 -70 % dari leukosit yang beredar. Garis
tengah sekitar 12 um,
satu inti dan 2-5 lobus. Sitoplasma yang banyak diisi oleh
granula-granula spesifik
(0;3-0,8um) mendekati batas resolusi optik, berwarna
salmon pinkoleh campuran
jenis romanovky. Granul pada neutrofil ada dua :
- Azurofilik yang mengandung enzym lisozom dan
peroksidase.
- Granul spesifik lebih kecil mengandung fosfatase alkali
dan zat-zat bakterisidal
(protein Kationik) yang dinamakan fagositin.
Neutrofil jarang mengandung retikulum endoplasma granuler,
sedikit mitokonria,
apparatus Golgi rudimenter dan sedikit granula glikogen.
Neutrofil merupakan garis
depan pertahanan seluler terhadap invasi jasad renik,
menfagosit partikel kecil
dengan aktif. Adanya asam amino D oksidase dalam granula
azurofilik penting dalam
penceran dinding sel bakteri yang mengandung asam amino D.
Selama proses
fagositosis dibentuk peroksidase. Mielo peroksidase yang
terdapat dalam neutrofil
berikatan dengan peroksida dan halida bekerja pada
molekultirosin dinding sel
bakteri dan menghancurkannya.
Dibawah pengaruh zat toksik tertentu seperti streptolisin
toksin streptokokus
membran granula-granula neutrofil pecah, mengakibatkan
proses pembengkakan
diikuti oleh aglutulasiorganel- organel dan destruksi
neutrofil.
Neotrofil mempunyai metabolisme yang sangat aktif dan
mampu melakukan
glikolisis baik secara arrob maupun anaerob. Kemampuan
nautropil untuk hidup
dalam lingkungan anaerob sangat menguntungkan, karena
mereka dapat membunuh
bakteri dan membantu membersihkan debris pada jaringan
nekrotik. Fagositosis oleh
neutrfil merangsang aktivitas heksosa monofosfat shunt,
meningkatkan
glicogenolisis.
EOSINOFIL
Jumlah eosinofil hanya 1-4 % leukosit darah, mempunyai
garis tengah 9um
(sedikit lebih kecil dari neutrofil). Inti biasanya
berlobus dua, Retikulum endoplasma
mitokonria dan apparatus Golgi kurang berkembang.
Mempunyai granula ovoid yang
dengan eosin asidofkik, granula adalah lisosom yang
mengandung fosfatae asam,
katepsin, ribonuklase, tapi tidak mengandung lisosim.
Eosinofil mempunyai
pergerakan amuboid, dan mampu melakukan fagositosis, lebih
lambat tapi lebih
selektif dibanding neutrifil. Eosinofil memfagositosis
komplek antigen dan anti bodi,
ini merupakan fungsi eosinofil untuk melakukan fagositosis
selektif terhadap komplek
antigen dan antibody. Eosinofil mengandung
profibrinolisin, diduga berperan
mempertahankan darah dari pembekuan, khususnya bila
keadaan cairnya diubah
oleh proses-proses Patologi. Kortikosteroid akan
menimbulkan penurunan jumlah
eosinofil darah dengan cepat.
BASOFIL
Basofil jumlahnya 0-% dari leukosit darah, ukuran garis
tengah 12um, inti
satu, besar bentuk pilihan ireguler, umumnya bentuk huruf
S, sitoplasma basofil
terisi granul yang lebih besar, dan seringkali granul
menutupi inti, granul bentuknya
2003
Digitized by USU digital libraray 3
ireguler berwarna metakromatik, dengan campuran jenis
Romanvaki tampak
lembayung. Granula basofil metakromatik dan mensekresi
histamin dan heparin, dan
keadaan tertentu, basofil merupakan sel utama pada tempat
peradangan ini
dinamakan hypersesitivitas kulit basofil. Hal ini
menunjukkan basofil mempunyai
hubungan kekebalan.
LIMFOSIT
Limfosit merupakan sel yang sferis, garis tengah 6-8um,
20-30% leukosit
darah.Normal, inti relatifbesar, bulat sedikit cekungan
pada satu sisi, kromatin inti
padat, anak inti baru terlihat dengan electron mikroskop.
Sitoplasma sedikit sekali,
sedikit basofilik, mengandung granula-granula azurofilik.
Yang berwarna ungu
dengan Romonovsky mengandung ribosom bebas dan
poliribisom. Klasifikasi lainnya
dari limfosit terlihat dengan ditemuinya tanda-tanda
molekuler khusus pada
permukaan membran sel-sel tersebut. Beberapa diantaranya
membawa reseptos
seperti imunoglobulin yang mengikat antigen spesifik pada
membrannya. Lirnfosit
dalam sirkulasi darah normal dapat berukuran 10-12um
ukuran yang lebih besar
disebabkan sitoplasmanya yang lebih banyak. Kadang-kadang
disebut dengan
limfosit sedang. Sel limfosit besar yang berada dalam
kelenjar getah bening dan
akan tampak dalam darah dalam keadaan Patologis, pada sel
limfosit besar ini inti
vasikuler dengan anak inti yang jelas. Limfosit-limfosit
dapat digolongkan
berdasarkan asal, struktur halus, surface markers yang
berkaitan dengan sifat
imunologisnya, siklus hidup dan fungsi.
MONOSIT
Merupakan sel leukosit yang besar 3-8% dari jumlah
leukosit normal,
diameter 9-10 um tapi pada sediaan darah kering diameter
mencapai 20um, atau
lebih. Inti biasanya eksentris, adanya lekukan yang dalam
berbentuk tapal kuda.
Kromatin kurang padat, susunan lebih fibriler, ini
merupakan sifat tetap momosit
Sitoplasma relatif banyak dengan pulasan wrigh berupa bim
abu-abu pada sajian
kering. Granula azurofil, merupakan lisosom primer, lebih
banyak tapi lebih kecil.
Ditemui retikulim endoplasma sedikit. Juga ribosom,
pliribosom sedikit, banyak
mitokondria. Apa ratus Golgi berkembang dengan baik,
ditemukan mikrofilamen dan
mikrotubulus pada daerah identasi inti.
Monosit ditemui dalam darah, jaingan penyambung, dan
rongga-rongga
tubuh. Monosit tergolong fagositik mononuclear (system
retikuloendotel) dan
mempunyai tempat-tempat reseptor pada permukaan
membrannya. Untuk
imunoglobulin dan komplemen.
Monosit beredar melalui aliran darah, menembus dinding
kapiler masuk
kedalam jaringan penyambung. DaIam darah beberapa hari.
Dalam jaringan
bereaksi dengan limfosit dan memegang peranan penting
dalam pengenalan dan
interaksi sel-sel immunocmpetent dengan antigen.
PERKEMBANGAN LIMFOSlT DALAM PROSES IMMUN
Seperti kita ketahui bahwa limfosit yang bersikulasi
terutama berasal dari
timus dan organ limfoid perifer, limpa, limfonodus, tonsil
dan sebagainya. Akan
tetapi mungkin semua sel pregenitor limfosit berasal dari
sum-sum tulang, beberapa
diantara limfositnya yang secara relatif tidak mengalami
diferensiasi ini bermigrasi ke
timus, lalu memperbanyak diri, disini sel limfosit ini
memperoleh sifat limfosit T,
kemudian dapat masuk kembali kedalam aliran darah, kembali
kedalam sum-sum
tulang atau ke organ limfoid perifer dan dapat hidup
beberapa bulan atau tahun.
Sel-sel T bertanggung jawab terhadap reaksi immune seluler
dan mempunyai
reseptor permukaan yang spesifik untuk mengenal antigen
asing. Limfosit lain tetap
diam disum-sum tulang berdiferensiasi menjadi limfosit B
berdiam dan berkembang
2003
Digitized by USU digital libraray 4
didalam kompertemenya sendiri. Sel B bertugas untuk
memproduksi antibody
humoral antibody response yang beredar dalam peredaran
darah dan mengikat
secara khusus dengan antigen asing yang menyebabkan
antigen asing tersalut
antibody, kompleks ini mempertinggi fagositosis, lisis sel
dan sel pembunuh (killer
sel atau sel K) dari organisme yang menyerang. Sel T dan
sel B secara marfologis
hanya dapat dibedakan ketika diaktifkan oleh antigen.
Tahap akhir dari diferensiasi
sel-sel B yang diaktifkan berwujud sebagai sel plasma. Sel
plasma mempunyai
retikulum endoplasma kasar yang luas yang penuh dengan
molekul-molekul
antibody, sel T yang diaktifkan mempunyai sedikit
endoplasma yang kasar tapi
penuh dengan ribosom bebas.
Pengertian Antigen dan Antibodi
Substansi asing yang bertemu dengan system itu bekerja
sebagai antigen,
anti-melawan, + genin menghasilkan. Contohnya jika terjadi
suatu substansi terjadi
suatu respon dari tuan rumah, respon ini dapat selular,
humoral atau keduanya.
Antigen dapat utuh seperti sel bakteri sel tumor atau
berupa makro molekul, seperti
protein, polisakarida atau nucleoprotein. Pada keadaan apa
saja spesitas respon
imun secara relatif dikendalikan oleh pengaruh molekuler
kecil dari antigendetenniminan
antigenic untuk protein dan polisakarida, determinan
antigenic terdiri
atas empat sampai enam asam amino atau satuan monosa
karida. Jika komplek
antigen Yang memiliki banyak determinan misalnya sel
bakteri akan membangkitkan
satu spectrum respon humoral dan selular.
Antibodi, disebut juga imunoglobulin adalah glikkoprotein
plasma yang
bersirkulasi dan dapat berinteraksi secara spesifik dengan
determinan antigenic yang
merangsang pembentukan antibody, antibody disekresikan
oleh sel plasma yang
terbentuk melalui proliferasi dan diferensiasi limfosit B.
Pada manusia ditemukan lima kelas imunoglobulin, Ig.G,
terdiri dari dua
rantai ringan yang identik dan dua rantai berat yang
identik diikat oleh ikatan
disulfida dan tekanan non kovalen. Ig G merupakan kelas
yang paling banyak
jumlahnya, 75 % dari imunoglobulin serum IgG bertindak
sebagai suatu model bagi
kelas-kelas yang lain.
Terjadinya respon imun dari tubuh.
Kepekaan tubuh terhadap benda asing (antigen 0 akan
menimbulkan reaksi
tubuh yang dikenal sebagai Respon imun Respon imun ini
mempunyai dampak positif
terhadap, tubuh yaitu dengan timbulnya suatu proses
imunisasi kekebalan tubuh
terhadap antigen tersebut, dan dampak negatifnya berupa
reaksi hypersensitifitas.
Hypersensitifitas merupakan reaksi yang berlebihan dari
tubuh terhadap antigen
dimana akan mengganggu fungsi sistem imun yang menimbulkan
efek protektif yaitu
merusak jaringan.
Proses kerusakan yang paling cepat terjadi berupa
degranulasi sel dan
derifatnya (antara lain sel basofil, set Mast dan sel
plasma) yang melepaskan
mediator-mediatonya yaitu histamin, serotonin, bradikinin,
SRS=A, lekotrin Eusinohil
chemotactic Factor (ECF) dan sebagainya. Reaksi tubuh
terhadap pelepasan
mediator ini menimbulkan penyakit berupa asthma bronchial,
rhinitis aIergika,
urtikaria, diaree dan bisa menimbulkan shock. Secara
lambat akan terjadi reaksi
kerusakan jaringan berupa sitolisis dari sel-sel darah
merah sitotokis terhadap organ
tubuh seperti ginjal (glomeruloneftitis), serum
siknesdermatitis kontak, reaksi
tuberculin dan sebagainya, rheumatoid arthritis. coom dan
gell membagi 4 jenis
sesitifitas, dimana dapat dilihat apa yang terjadi pada
sel-sel leukosit.
Pada type I (padareaksi anafilaktik) terjadi antigen
bergabung dengan IgE
(imunoglobin tipe E-antibodies tipe E) yang terikat pada
mast sel -sel basofil dan sel
plasma. Reaksi terhadap tubuh terjadi dalam beberapa
menit.
2003
Digitized by USU digital libraray 5
Pada type II (pada reaksi sititoksik) dimana antigen
mengikat diri pada
membran sel, yang pada penggabungan anti gen mengikat IgG
atau IgM yang bebas
dalam cairan tubuh akan menghancurkan sel yang mengikat
anti gen tersebut.
Reaksi ini terdapat pada tranfusi darah, anemia
hemolitika.
Pada Type III ( reaksi artrhus ) merupakan reaksi anti gen
dan antibody
komplek dimana gen bergabung dengan IgG atau IgM menjadi
suatu komplek, yang
mengikat diri antara lain sel-sel ginjal, paru-paru dan
sendi.
Terjadilah aktifitas dari komplemen (komplemen protein
dalam darah) dan pelepasan
zat-toksis. Ditemui pada glomerulo nephritis, serum
scness, rheumatk arthritis.
Type IV ( delayed ), antigen merupakan sel protein atau
sel asing yang
bereaksi dengan limfosit, limfosit melepaskan mediator
aktif yaitu limfokin, terjadi
reaksi pada kulit, reaksi pada tranplantasi, reaksi
tuberculin dan dermatitis kontak.
Imonopatogenesis.
Pada Imunopatologi menjelaskan bahwa reaksi alergi diawali
dengan tahap
sensit, kemudian diikuti reaksi ale yang terlepas dari
sel-sel mast (mastosit) dan
atau sel basofil yang berkontak ulang dengan allergen spesifiknya
(IS hizaka, Tomiko
dan Ishizaka 1971). Saat ini lebih jelas terutama pada
rhinitis alergika diketahui
terdiri dari dua fase (Kaliner 1987, Lichtensin 1988,
pertama reaksi alergi fase cepat
(RAFC,immediet phas-allergic reaction), berlangsung sampai
satu jam setelah
berkontak alergan kedua, reaksi alergis fase lambat (RAFL,
Late phase allergic
reaction) yang berlangsung sampai 24 jam bahkan sampai 48
jam kemudian,
dengan puncak reaksi pada 4 – 8 jam pertama.
1. Tahap Sensitasi
Pada awal reaksi alergis sebenarnya dimulai dengan respon
pengenalan
alergan/antigen oleh sel darah putih yang dinamai sel
makrofag, monosit (Brown
dkk, 1991) dan atau sel denritik (Mc William, 1996)
Sel-sel tersebut berperan
sebagai sel penyaji (antigen presenting cells, sel APC)
dan berada dimukosa (dalam
dimukosa hidung), antigen/allergen yang menempel pada
permukaan mukosa
ditangkap oleh sel APC, setelah melalui proses internal
dalam sel APC, dari malergen
tersebut terbentuk fragmen pendek peptida imunogenik,
Frakmen ini bergabung
dengan molekul HLA = kelas II @B heterodimer dalam
endoplasmic reticullum sel
APC. Penggabungan yang terjadi akan membentuk komplek
peptide-MHC-class II
(mayor histocompatibility comlolex class II) yang kemudian
dipresentasikan
dipermukaan sel APC; kepada salah satu limfosit T yaitu
Holper-T cell (klon T-CD4 +,
dimana Tho), jika selanjutnya tho ini memiliki molekul
reseptor spesifik terhadap
molekul komplek peptide –MHC-II maka akan terjadi
penggabungan kedua molekul
tersebut.
Akibat selanjutnya sel APC akan melepas sitokin Salah
satunya Interkulin - I
(IL-I),sitokin akan mempengaruhi limfosit jenis T-CD4 +
(Tho) yang jika sinyal
kostimulator (pro-inflamotori second Signal) induksinya
cukup memadai, maka akan
terjadi aktivasi dan proliferasi sel Tho menjadi Th2 dan
Th1; sel ini akan
memproduksi sitokin yang mempunyai spectrum luas sebagai
molekul
imunoregulator, antara lain interleukin-3 (IL-3), IL-4,
IL-5 dan IL-13. Sitokin IL-4
dan IL-13 akan ditangkap resepiornya pada permukaan
limfisit B istirahat (resting B
sel), sehingga terjadi aktivasi limfosit B. Limfosit B ini
memproduksi imunoglobulin E
(IgE), sedangkan IL-13 dapat berperan sendiri dalam
keadaan IL-4 rendah (Naclerio
dkk, 1985, Geha, 1988), sehingga molekul IgE akan melimpah
dan berada di
mukosa atau peredaran darah.
2. Reaksi Alergis
Molekul IgE yang beredar dalam sirkulasi darah akan
memasuki jaringan dan
akan ditangkap oleh reseptor IgE yang berada pada
permukaan sel metacromatik
2003
Digitized by USU digital libraray 6
(mastosit atau sel basofil), sel ini menjadi aktif.
Apabila dua light chain IgE berkonta
dengan allergen spesifiknya maka akan terjadi degranulasi
(pecahnya dinding sel)
mastosit/basofil dan akibainya terlepas mediator-mediator
alergis. Reaksi alergis
yang segera terjadi akibat histamin tersebut dinamakan
reaksi alergi fase cepat
(RAFC )yang mencapai puncaknya pada 15-20 menit pada
paparan alergen dan
berakhir pada sekitar 60 menit kemudian.
Sepanjang RAFC mastosit juga melepaskan molekul-molekul
kemotaktik
(penarik sel darah putih ke organ sasaran). Reaksi alergis
fase cepat dapat berlanjut
terus sebagai reaksi alergi fase lambat (RAFL) sampai 24
bahkan 48 jam kemudian
(Kaliner 1987. Lichtenstein 1988). Tanda khas RAFL adalah
terlihatnya pertambahan
jenis dan jumlah sel-sel inflamasi yang berakumulasi
(berkumpul) di jaringan
sasaran.
Sepanjang RAFL (creticos 1998) sel eosiinofil aktif akan
melepas berbagai
mediator, antara lain basic protein, leukotriens
cytokines, Sedangkan basofil akan
melepas histamin, leukotriens dan cytokines. Disamping itu
berbagai sel
mononuclear akan melepas histamin releasing factors (HRFs)
Yang akan memacu
mastosit dan basofil dan melepas histamin lebih banyak
lagi.
Sepanjang reaksi alergi fase cepat (RAFC) dan reaksi
alergi fase lambat
(RAFL) sel-sel inflamasi dilepaskan sebagai prodak protein
yang merupakan hasil
kenerja DNA sel-sel inflamasi tersebut yang dapat dibagi
dalam tiga jenis, Gran dkk
1991;Bocher dkk; Coffman 1994 schleimer dkk 199.
Durham and Till 1998 Greticos 1998; Nel dkk 1998.
Mediator-mediator mastosit / basofil dan eosinofil,
histamin, prostaglandin,